o

r a k y a t

Rakyat ialah kita--jutaan tangan yang mengayun dalam kerja--di bumi tanah tercinta--jutaan tangan yang mengayun bersama--membuka hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga--mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota--menaikan layar, menebar jala--meraba kelam di tambang logam batubara--Rakyat ialah tangan yang bekerja|| [Hartojo Andangdjaja]

Tokek lagi Naik Daun

Tokek benar-benar sedang naik daun. Sejak lama binatang berkulit mbregidhil ini dikenal sebagai jamu penangkal penyakit gatal. Kini malah digosipkan bisa menyembuhkan AIDS! Harganya pun bisa melambung di luar kewajaran. Bayangkan, seekor tokek bisa laku berjutap-juta, puluhan juta, bahkan ratusan juta rupiah. Itu baru tokek, belum buaya. Walakathah!

detikcom : Fuel Surcharge Penerbangan Menipu Konsumen

title : Fuel Surcharge Penerbangan Menipu Konsumen
summary : Konsumen tidak peduli bahwa dirinya tengah diperdaya oleh operator penerbangan selama ini melalui pembebanan fuel surcharge (FS) pada setiap rute� penerbangan dengan besaran yang mencekik leher. (read more)

Lanjut.....

Pertanian Kita dalam Peta Dunia

Melihat pandangan negara-negara lain terhadap Indonesia dalam pertemuan multilateral APEC di Singapura, terasa bahwa kita adalah negara yang dipandang penting dalam peta dunia.Sebagai negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan memiliki pertumbuhan ekonomi ketiga tertinggi setelah China dan India, Indonesia dinilai penting dalam menjaga keseimbangan pertumbuhan ekonomi global.


Hal tersebut juga berlaku dalam bidang pertanian. Berdasarkan data statistik dunia, Indonesia adalah penghasil pertanian terbesar keenam dunia dengan nilai keluaran sekitar 60 miliar dollar Amerika Serikat (2007). Indonesia adalah produsen biji-bijian pangan (sereal) terbesar kelima dan produsen buah-buahan terbesar kesepuluh di dunia. Indonesia juga produsen beras nomor tiga di dunia setelah China dan India meski merupakan konsumen terbesar ketiga juga setelah China dan India. Sekadar menambahkan, Indonesia adalah produsen minyak sawit mentah (CPO) terbesar dunia, nomor tiga untuk karet dan kakao, nomor empat untuk kopi, dan nomor enam untuk teh.

Arti penting pertanian Indonesia itu terefleksikan dalam berbagai usaha mencari solusi persoalan global. Melalui posisi Indonesia yang kian terhormat di forum-forum internasional— ASEAN, APEC, atau G-20—peran Indonesia dapat lebih banyak tersampaikan.

Ketidakpastian iklim
Dalam ketahanan pangan dan terkait perubahan iklim, Indonesia adalah korban ketidakpastian iklim, tetapi sekaligus dapat menawarkan solusi. Ketidakpastian iklim telah menimbulkan masalah bagi ribuan petani Indonesia yang menghadapi kekeringan, kebanjiran, atau siklus iklim yang berubah-ubah.

Ketidakpastian iklim membuat produktivitas kian sulit ditingkatkan, gejolak harga kian membingungkan. Bahkan, beberapa pulau di Indonesia terancam berat abrasi air laut dan terancam tenggelam.

Namun, Indonesia juga dapat menawarkan solusi. Pertama, dengan membangun ketahanan pangan sendiri, Indonesia telah turut berkontribusi dalam ketahanan pangan global. Pengalaman krisis pangan tahun 2008 menunjukkan, ketidakstabilan pangan pada satu negara dapat memicu persoalan, bukan melalui perdagangan atau investasi, tetapi melalui informasi.

Tahun 2008, Filipina membutuhkan tambahan amat besar stok beras. Keadaan ini menyebabkan harga beras melambung tinggi, termasuk di negara-negara yang telah berswasembada beras bahkan pada negara-negara eksportir. India yang mengalami masalah penurunan produksi gula tahun 2009 juga menyebabkan kenaikan harga gula di beberapa negara. Artinya, dengan Indonesia mampu menjaga stabilitas ketahanan pangan, selain untuk kepentingan rakyat Indonesia sendiri, maka akan dapat memberi solusi—setidaknya mengurangi beban—persoalan ketahanan pangan global.

Kedua, menambah pasokan pangan tetap merupakan agenda besar di seluruh dunia. Ketersediaan lahan dan air menjadi amat penting. Indonesia masih memiliki kedua sumber daya alam penting itu. Badan Pertanahan Nasional telah mengidentifikasi lahan seluas 7,1 juta hektar yang dapat dimanfaatkan untuk perluasan areal tanaman pangan. Sebagian di antaranya dapat dibuka untuk kerja sama internasional menambah pasokan pangan pasar global, sebagian lainnya untuk penambahan pasokan pasar domestik.

Strategis
Karena itu, amat strategis langkah Presiden RI menawarkan revitalisasi industri dan pertanian—khususnya untuk gula, pupuk, daging, kedelai, dan hal-hal terkait daya saing sektor pangan—sebagai kesempatan investasi kepada para pemimpin dunia usaha di ”CEO Summit” pertemuan APEC Singapura.

Investasi di bidang-bidang itu dapat bermakna ganda, sebagai peluang yang menguntungkan serta sebagai bagian solusi ketahanan pangan global dan membangun pertumbuhan ekonomi dunia yang lebih berimbang.

Hal itu harus dilakukan dengan tetap melakukan pembenahan diri ke dalam. Petani, industri, pedagang, dan semua pelaku pertanian diajak untuk lebih proaktif melakukan adaptasi dan mitigasi lingkungan.

Semua praktik keseharian yang tak ramah lingkungan harus dikurangi bersama bahkan dihilangkan. Iklim investasi terus diperbaiki sehingga memberi apresiasi lebih besar bagi ”investasi hijau”. Pemerintah akan menyambut tiap kreativitas dan inovasi petani untuk dapat lebih hemat air. Apresiasi akan diperoleh pemerintah daerah jika menerapkan kebijakan yang efektif dalam melarang pembakaran sampah atau sisa tanaman di permukiman, sawah, kebun, apalagi di hutan; dan aneka kegiatan prolingkungan lainnya. Efisiensi industri dengan menggunakan teknologi ramah lingkungan akan mendapat respons positif dari konsumen.

Semua itu jelas tak dapat dilakukan sendiri. Menteri Pertanian dengan tepat melakukan pendekatan lebih terbuka kepada dunia usaha untuk membangun kerja sama sinergis. Penguatan organisasi pertanian dengan struktur baru pun akan didayagunakan untuk mengurai sumbatan kebijakan dan pelaksanaannya, sekaligus mencari terobosan bersama lintas sektor.

Semua itu diharapkan dapat kian mengaktualisasikan peran pertanian di dunia bagi sebesar- besarnya kemakmuran rakyat; dan tidak hanya menjadi angka-angka statistik belaka.

Bayu Krisnamurthi Wakil Menteri Pertanian

Kompas, Rabu, 18 November 2009


Lanjut.....

Sambel Pecel Mbah Suti


Yang namanya nasi pecel sudah sangat familier bagi telinga kita. Menu makan yang terdiri dari nasi dengan sayuran dan kecambah yang dikukus lantas disiram dengan sambal pecel ini, hampir di setiap daerah bisa dijumpai: di kota maupun desa.

Kini, nasi pecel bukan lagi monopoli kalangan bawah dan menu pokok di warung kaki lima. Rumah makan mewah dan yang layak disebut restauran pun menyediakannya.

Banyak orang beranggapan, nasi pecel merupakan menu yang sangat cocok bila dimakan sebagai sarapan. Namun, bagi Mbah Suti nasi pecel bisa dinikmati kapan saja, baik pagi hari, sore, maupun tengah malam. Mbah Suti telah membuktikan keyakinannya itu sejak tahun ’80-an.

Warung Nasi Pecel Mbah Suti ini ada di RT 18, Dusun Kauman, Desa Ngantru Kecamatan Kota Kabupaten Trenggalek, tepatnya 500 m sebelah barat RKPD Trenggalek.

Yang membedakan dengan warung-warung yang lain adalah waktu bukannya. Warung Mbah Suti ini setiap harinya mulai dibuka menjelang malam larut, yaitu tepatnya mulai pukul 24.00 wib sampai pagi.

Usaha yang dijalankan Mbah Sutini ini sebenarnya merupakan warisan dari orang tuanya usaha yaitu Mbah Suti (almarhum ).

Sedangkan saat ini yang menjalankan usahanya adalah cucu dari Mbah Suti, anak dari Mbah Sutini, karena Mbah Sutini sendiri saat ini sudah tidak mampu lagi untuk melakukan aktivitas berjualan ataupun membuat masakan.

Jualan Keliling
Menurut penuturan Mbah Sutini mengapa usahanya sampai saat ini dikenal dengan sebutan Mbah Suti, bahkan anak perempuannya yang meneruskan usahanya, biarpun masih muda ya mendapat sebutan Mah Suti, hal ini sebenarnya ada sejarahnya.

’’Dari dulu sampai sekarang orang mengenal ya Mbah Suti. Dulu sebenarnya ibu saya namanya Suti dan saya merupakan anak satu-satunya kebetulan diberi nama Sutini, ibu saya sejak tahun 1963 berjualan nasi pecel dengan cara berkeliling. Ketika itu saya masih kecil dan sering diajak keliling untuk menjajakan dagangannya,’’ tutur Mbah Suti.

’’Kegiatan itu dijalani ibu saya sampai sekitar tahun ’70-an, kemudian saya teruskan hingga tahun 1983, lantas saya berhenti jualan keliling dan mencoba untuk membuka warung yang lokasinya dirumah sendiri,’’ lanjutnya.

Sejak ia tidak jualan keliling lagi dan membuka warung nasi pecel ternyata usaha yang dirintis itu berjalan dengan lancar karena pembelinya kebanyakan adalah pelanggan yang selama ini dilayani dan ditambah dengan adanya pelanggan-pelanggan yang baru.

Mengapa ia membuka atau mulai berjualan ketika hari telah larut malam. Ternyata Mbah Suti mempunyai alasan sendiri.

” Awalnya memang saya sengaja untuk melayani orang-orang yang biasanya jaga pada malam hari atau orang-orang yang yang senang cangkrukan sampai tengah malam, lha ternyata kok sampai sekarang dijadikan tempat jujugan ya alhamdulillah” tutur Mbah Suti.

Sampai saat ini warung pecel Mbah Suti dikenal dengan warung tengah malamnya. Namun yang lebih dikenal lagi adalah bumbu pecelnya.

Dari Nasi ke Bumbu
Berawal dari adanya pelanggan yang memesan sambel pecelnya yang katanya untuk oleh-oleh yang di rumah, hal itu terbersit dalam pikiran Mbah Suti untuk membuat sambel pecel yang nantinya dikemas sebagai oleh-oleh.

Dan itu betul-betul dilakukan sejak tahun 1990 sampai sekarang. Menurut Mbah Suti, dengan tersediannya sambel pecel yang dikemas dalam kantong plastik tersebut ternyata bisa menambah pelanggan serta pemasukan setiap harinya.

Untuk memenuhi kebutuhan sambel pecel bagi warung nasinya serta untuk dijual dalam bentuk kemasan Mbah Suti tidak banyak mengalami kendala, tinggal menambah porsi atau jumlah sambalnya saja. Namun, saat ini justru lebih banyak yang dijual berupa sambal dalam bentuk kemasan daripada yang digunakan untuk jualan nasi pecelnya.

Semua kegiatan tersebut awalnya dilakukan sendiri dengan dibantu oleh ketiga anaknya yang masing-masing mempunyai tugas sendiri sendiri.

Namun, saat ini berhubung anak-anaknya telah berumah tangga sendiri-sendiri dan hanya tinggal bungsunya saja yang kelihatannya nantinya yang akan meneruskan usahannya maka untuk memenuhi kebutuhan atau permintaan pelanggan Mbah Suti mempekerjakan beberapa orang untuk membantu menjalankan usahanya.

Setiap harinya ia paling tidak Mbah Suti membuat sambel pecel sebanyak tiga kali masakkan, dalam sekali masak sebanyak rata-rata menghasilkan 6 kg sambal.

Namun bila stok sambalnya mulai menipis dalam sehari bisa juga memproduksi sebanyak 5 kali masak, jadi setiap hari paling tidak Mbah Suti memasak sambel 18 sampai 30 kg.

Sambal pecel buatan Mbah Suti ini selain rasanya yang enak ternyata memiliki daya tahan yang cukup bagus. Bila disimpan dengan baik bisa bertahan samoai 1 bulan tanpa mengalami perubahan baik rasa maupun warnanya.

Cara Tradisional
Dalam pengolahannya Mbah Suti tetap mempertahankan sistem tradisional yaitu mulai penggorengan bahan baku sampai menumbuknya dilakukan dengan tangan atau manual.

Sambal Pecel Mbah Suti ini yang dalam bentuk kemasan dijual dengan harga Rp 30.000 untuk ukuran satu kilogram, Rp 15.000 untuk ukuran ½ kilogram dan Rp 7.500 untuk ukuran ¼ kilogram.

Pemasaran sambel pecel cukup dilakukan di rumahnya saja, karena pembeli biasanya datang sendiri baik yang berasal dari lingkup Trenggalek maupun yang datang dari luar daerah.

Pembeli sambel kemasan Mbah Suti ini kebanyakan dari kalangan konsumen rumahan, namun yang paling banyak justru pesanan dari luar daerah Trenggalek.

Bahan- bahan untuk membuat sambel pecel ini menurut penuturan Mbah Suti sebenarnya sama saja seperti sambel-sambel pada umumnya.

Bahan-bahan yang diperlukan antara lain, kacang tanah, cabe, bawang, kencur, asam jawa, gula merah, garam, dan daun jeruk pecel.

’’Sambal yang saya buat ini bahannya sama persis dengan sambal –sambal pada umumnya, mungkin cara pembuatannya saja yang membedakan. Lagipula, masakan itu biarpun bahannya sama tapi lain yang memasak lain pula rasanya,’’ ujar Mbah Suti.

Maka, biarpun saya sudah tidak mampu lagi membuat sambal namun untuk meracik bumbu tetap saya sendiri yang menentukan.

Untuk kemasannya yang semula hanya cukup dibungkus menggunakan kantong plastic biasa, untuk menunjang tampilan yang menarik kini sambal yang berada dalam kantong plastic tersebut telah dibungkus lagi dengan menggunakan kotak mika dan diberi label ”Mbah Suti” lengkap dengan alamat dan nomer teleponnya. Sehingga bila ada yang ingin memesan bisa menghubungi lewat telepon lebih dahulu.

Resep supaya Awet
Kiat untuk membuat sambal pecel awet dan enak ala Mbah Suti yaitu perlakuan bahan-bahan baku sebelum diproses menjadi sambal merupakan kunci utamannya.

Pertama-tama, bahan baku kacang tanah harus dipilih yang bagus, dicuci bersih dan dikeringkan. Kemudian kacang tersebut digoreng sanggan (dalam wingka tidak menggunakan minyak goreng).

Dalam proses menggoreng ini, paling baik menggunakan tungku kayu bakar, dan apinya tidak boleh terlalu besar sehingga hasil gorengannya tidak ada yang gosong.

Setelah kacang masak lantas didinginkan, setelah dingin kemudian dihilangkan kulit arinya sehingga yang tinggal adalah butiran kacang yang kelihatan putih bersih.

Langkah selanjutnya adalah mempersiapkan bumbu-bumbu yang akan digunakan yaitu, cabe rawit merah, asam jawa, kencur, daun jeruk pecel, dan bawang putih.

Semua bahan bumbu tersebut ukurannya menurut Mbah Suti tinggal menurut perasaan masing-masing yang masak. Bumbu yang telah siap tersebut kemudian dikukus sampai masak.

Kemudian proses selanjutnya adalah mencampur bumbu tersebut dengan kacang tanah, dan gula merah lantas ditumbuk sampai halus dan tidak lupa diberi garam secukupmya. Tapi menurut penuturannya jangan sekali-kali memberi campuran penyedap rasa biarpun hanya sedikit, karena sambal akan cepat basi.[pur]


Lanjut.....

Membangun Rumah dari Jauh

Orang Jawa memiliki pedoman untuk mengukur kualitas kehidupannya yang meliputi kepemilikan: curiga, garwa, wisma, turangga, kukila.

Curiga, arti harfiahnya adalah keris atau pusaka. Ia juga bisa dimaknai sebagai senjata, walau di zaman modern ini fungsi keris sebagai senjata sudah amat jarang ditemui. Kini, keris adalah simbol, bahkan sering lebih dinilai sebagai benda seni warisan leluhur. Keris adalah ketajaman. Sebagai simbol, ia dapat berupa ketajaman wawasan, ketajaman berpikir, ketajaman intuisi untuk menjalani hidup ini dan dengan tingkat ketajaman tertentu, seiring capaian usia tertentu, seseorang layak, pantas, dan bahkan ’harus’ mendapatkan garwa: suami atau istri. Garwa bisa dimaknai sebagai sigaraning nyawa, belahan jiwa, gantilaning ati. Nah, kalau garwa sudah dimiliki, kebutuhan berikut yang menjadi primer adalah wisma: rumah. Begitu jika digagas secara alamiah. Seperti burung, mendapatkan jodohnya dahulu baru mempersiapkan sarangnya untuk bertelur, mengeraminya, dan kemudian membesarkan anak-anak mereka. Walau, dalam kenyataannya, banyak pula bujangan yang sudah mempersiapkan rumah, atau kandang yang megah.

Ketika anak-anak beranjak besar, sudah memerlukan kamar belajarnya masing-masing, memerlukan kamar tidurnya masing-masing, sedang keadaan masih belum memungkinkan memiliki rumah, dan masih saja menempel di ’’pondok mertua indah’’ itu dapat menjadi salah satu alasan untuk memilih mencari pekerjaan di luar negri.

Nah, ketika uang mulai didapat, dan sudah mencapai jumlah yang diperlukan untuk membangun sebuah rumah yang layak, sedangkan bekerja di luar negri masih perlu dilanjutkan, pilihan yang sering diambil adalah: mengirimkan sejumlah uang itu ke kampung halaman agar pembangunan rumah cepat selesai. Apakah itu pilihan yang bijak? Tulisan ini dibuat tidak untuk mengatakan bahwa pilihan itu tidak atau kurang bijak, melainkan hanya sekadar memaparkan beberapa risiko yang mungkin timbul.

Dahulu, ketika orang membangun rumah berbahan dasar kayu (dinding, rangka, pilar, kusen, pintu, jendela), rumah boleh dipandang sebagai aset bergerak. Maksudnya, ia bisa dipindahkan ke tempat lain, bisa dijual, tanpa harus sekalian tanahnya. Rumah itu bisa dibongkar dan kemudian diusung ke tempat yang diinginkan oleh pembelinya. Sekarang, orang membangun rumah rata-rata berbahan dasar semen dan batako/batu bata. Bahkan, rangkanya pun sering dibuat dari beton. Maka, jadilah rumah itu sebagai aset diam atau aset tak bergerak. Ia tidak bisa dipindahkan, tidak bisa dijual kecuali berikut tanah tempat bangunan rumah itu didirikan.

Karena itu rumah mesti dibangun dengan wawasan jauh ke depan, karena rumah yang baik bisa bertahan layak pakai sampai 25, 30, bahkan 50 tahun. Rumah bukanlah barang yang bisa dengan cepat kita utak-atik kalau sewaktu-waktu bosan dengan desain atau arsitekturnya. Membangun rumah harus dimulai dengan pertimbangan yang benar-benar matang. Bahkan, sebuah gambar/desain dengan harga jutaan rupiah pun dibeli orang untuk dapat mewujudkan rumah idamannya.

Faktor pertama yang memengaruhi seseorang untuk menjatuhkan pilihan terhadap salah satu model rumah tentunya adalah selera. Repotnya, tak jarang selera suami berbeda, bahkan bertentangan dengan selera istri. Jika terjadi hal demikian, jalan tengah mesti ditemukan. Satu hal yang tak boleh dilupakan yakni bahwa yang menentukan selera kita adalah pengetahuan atau wawasan kita mengenai sesuatu, dalam hal ini mengenai arsitektur, termasuk kalau mau percaya: fengsui. Seperti yang diisyaratkan namanya, fengsui itu berbasis budaya China. Sebenarnya, walau kalah populer, orang Jawa juga memiliki perhitungan serupa.

Seiring dengan perkembangan pengetahuan atau wawasan kita, selera kita terhadap model rumah juga berkembang atau berubah. Bagaimana kalau sebentar-sebentar selera kita berubah, dan kemudian kita selalu tidak puas walau berkali-kali rumah kita dipermak setelah puluhan bahkan ratusan juta rupiah kita habiskan untuk membangunnya? Kalau kita selalu punya uang untuk merenovasinya, satu persoalan teratasi. Tetapi di Jawa, terutama di pedesaan, kelewat rajin memperbaiki rumah juga akan memancing rasan para tetangga, dikira kita punya pesugihan ’’kandhang bubrah.’’

Maka, cara mengatasi persioalan akibat perkembangan selera ini adalah dengan mempersiapka diri sebaik-baiknya dengan menambah wawasan, dengan melihat dan membaca buku atau majalah-majalah khusus property yang sekarang banyak beredar.

Ada lagi potensi konflik akibat komunikasi jarak jauh. Walau teknologi memungkinkan kita bisa bercakap-cakap via telepon berjam-jam saban hari, jarak tetap potensial menimbulkan problema. Setelah seorang suami atau istri mengirimkan sejumlah uang kepada pasangannya di kampung, apakah rumah yang diinginkan benar akan segera dibangun dan diselesaikan? Apakah kelak rumah itu akan jadi sesuai dengan pesanan? Bukankah guyon yang sering kita dengar adalah: suami yang ’kreatif’ akan membangun dua buah rumah dari sejumlah uang yang dikirim --untuk membangun sebuah rumah—istrinya: sebuah untuk diri dan istrinya, dan sebuah lagi untuk perempuan yang lain! Nah, celaka tigabelas bukan, jika guyon getir itu jadi kenyataan?

Dan masih ada kemungkinan yang lebih pahit lagi, yakni jika uang yang dikirim ternyata tidak menjadi apa-apa, habis untuk berfoya-foya suami, kalah judi, atau membiayai kehidupan perempuan lain yang bukan sanak-bukan saudara. Ingatlah, uang itu sendiri sering jadi sumber persoalan.

Maka, jika pembangunan rumah itu masih bisa ditunda, menyimpan uang lebih dahulu di bank, dalam bentuk tabungan atau deposito berjangka agaknya bisa jadi pilihan yang lebih aman. [Bonari Nabonenar, bonarine@yahoo.com]

Lanjut.....

TAK SELAMANYA BISA MENGGENDONG


Sebagai buruh yang mengandalkan kekuatan fisik dalam menjalankan pekerjaan, para buruh gendong di Pasar Beringharjo sadar benar bahwa usia sangat berpengaruh terhadap kerja-kerja mereka. Maka sebagian dari para buruh ini melakukan usaha lain, seperti bekerja pada pedagang pasar atau bahkan berdagang saat tidak ada gendongan.

Mak Ndung merupakan salah satu buruh gendong yang kini tidak menjadikan jasa gendongan sebagai andalan. Sejak tahun 1994, perempuan yang memilih bercerai dari suami karena dipoligami ini berjualan pakaian dalam dan baju anak di antara los pasar. Ia mengaku meski membuka lapak dagangan, aktivitas menggendong masih tetap ia lakukan. ’’Ya kalau ada gendongan ini saya tutup,’’ katanya.

Perempuan yang menjawab tidak tahu ketika ditanya berapa usianya itu, sadar bahwa suatu saat ia tak akan kuat menggendong lagi. Sehingga usaha ini awalnya ia niatkan sebagai cadangan. Modal berdagang waktu itu ia dapatkan dari pinjaman. Hal itu bisa dipahami karena mereka memang berasal dari kalangan ekonomi lemah. Kondisi ekonomi keluarga itu pulalah yang menjadikan pendidikan mereka terbatas, sehingga kalah dalam persaingan di bidang kerja yang lebih baik.

Seperti halnya Mak Ndung, Tuminah yang saat ini menjabat sebagai ketua Paguyuban Sayuk Rukun, juga menekuni usaha lain yaitu jual-beli besi bekas. Saat ini ia hanya menjual jasa gendongan kepada para pelanggannya saja. Para pelanggan jasa gendongan ini sebagian besar adalah para pedagang pasar. Saat menerima order gendongan, Tuminah memilih untuk menutup kiosnya.

Mak Ndung dan Tuminah merupakan contoh dari buruh gendong yang kemudian mengembangkan diri tak sekedar sebagai penjual jasa gendongan saja, melainkan juga berdagang. Buruh gendong lain yang tidak memiliki modal dan tidak mempunyai kemampuan dagang, memilih bekerja secara lepas pada para pedagang pasar sambil menunggu pengguna jasa gendongan. Namun tak sedikit buruh gendong yang terpaksa harus berpangku tangan menahan kantuk sambil menunggu pekerjaan, karena tak memiliki sambilan.

Melihat potret mereka serta situasi kerja seperti itu, tak heran jika seorang fotografer di Yogyakarta merasa malu setelah mengabadikan gambar dan berbincang dengan mereka. Ia mengatakan, saat para buruh gendong itu bingung apa yang akan dimakan hari ini, ia justru bingung memilih menu. [siti aminah]

Lanjut.....

KEHIDUPAN HARUS TETAP BERJALAN

Kalau saja ada pilihan yang lebih layak, tentu perempuan-perempuan itu tak perlu menjual tenaga sebagai buruh gendong demi menyambung hidup mereka. Bisa dipastikan tak ada satu pun di antara mereka pernah membayangkan akan menjalani kehidupan sebagai buruh gendong. Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hiduplah yang akhirnya mendamparkan mereka pada profesi tersebut.

Mak Ndung, perempuan asal Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta mengaku keterlibatannya sebagai buruh gendong dipicu oleh praktek poligami suaminya. ’’Suami punya isteri tiga,’’ katanya awal Mei lalu. Sebagai isteri pertama, Mak Ndung merasa diabaikan kebutuhannya. Suami tidak lagi memberi nafkah padanya, sehingga Mak Ndung harus memutar otak, mencari cara agar kehidupannya bersama anaknya tetap bisa berjalan.

Maka mulailah babak baru kehidupan perempuan itu. Tahun 1980 Mak Ndung memutuskan menjadi buruh gendong di Pasar Beringharjo. Sehari-hari ia menghabiskan waktu di pasar yang berjarak kurang lebih 20 kilometer dari desa asalnya. ’’Waktu itu sambil momong anak. Kalau nggendong (beban), kadang anak saya tumpangkan di atas,’’ cerita Mak Ndung tentang masa lalunya.

Jauhnya jarak rumah dan tempat kerja menjadikan Mak Ndung dan sebagian besar buruh gendong lain menyewa kamar di sekitar pasar. Menurut pihak Yayasan Annisa Swasti (Yasanti) Yogyakarta, dulu banyak di antara mereka yang tidur di pasar. Tetapi sekarang hal itu sudah jarang ditemui. Para buruh ini tinggal di kamar sewaan secara berkelompok. ’’Seribu rupiah seharinya,’’ jawab Mak Ndung ketika ditanya berapa biaya sewa kamar mereka.

Mengenai pendapatan, Amin Muftiyanah, Direktur Yasanti mengungkapkan rata-rata mereka mendapatkan penghasilan setiap harinya sebesar Rp 15 ribu rupiah. Penghasilan ini didapatkan dari setidaknya 10 kali menggendong beban seberat 50-100 kilogram. Sebab untuk beban seberat itu mereka rata-rata hanya mendapatkan upah Rp 1500.

Dengan konstruksi pasar bertingkat seperti sekarang, jelas beban kerja mereka semakin berat. Tak jarang para buruh perempuan ini harus menggendong dari lantai bawah ke lantai atas, atau sebaliknya. Menurut Amin, ini tentu saja berpengaruh terhadap kesehatan perempuan, termasuk di dalamnya fungsi reproduksi perempuan. Terlebih sebagian buruh tersebut berada dalam kategori usia usia subur atau produktif.

Untuk itulah Yasanti bersama Paguyuban Buruh Gendong Pasar Beringharjo ’’Sayuk Rukun’’ mengadvokasi agar buruh gendong dapat mengakses layanan kesehatan masyarakat di kawasan pasar. Sebab sangat sulit bagi mereka mengakses layanan kesehatan di daerah asal, karena aktivitas keseharian mereka di pasar. Tak hanya itu, Yasanti dan Sayuk Rukun juga mengusahakan agar para buruh gendong diberi ruang beristirahat mengingat pekerjaan mereka menguras banyak tenaga.

Tak hanya pemerintah yang diharapkan memberi perhatian pada mereka. Masyarakat sebagai pengguna jasa pun diupayakan memiliki kepedulian dan penghargaan terhadap kerja para buruh perempuan ini. ’’Paling tidak dengan mengupah mereka secara layak,’’ kata Amin.[siti aminah]

Lanjut.....

Buruh Gendong Pasar Beringharjo Yogyakarta

Potret Keras dan Beratnya Kehidupan

Adzan dhuhur tengah berkumandang ketika tiga orang perempuan sibuk membongkar muatan dari sebuah mobil yang terparkir di lantai dua Pasar Beringharjo di pusat Kota Yogyakarta. Satu di antara mereka tampak sekuat tenaga mengeluarkan muatan dari dalam kendaraan. Sedang dua orang lainnya mengangkut dari kendaraan ke gudang yang terletak di antara los pasar.


Itulah rutinitas yang dijalani oleh para perempuan buruh angkut yang biasa disebut buruh gendong. Dinamakan buruh gendong karena mereka mengangkut beban dengan cara digendong. Berbeda dengan buruh angkut laki-laki yang biasanya memanggul beban tanpa alat bantu selendang seperti halnya buruh perempuan.

Keberadaan buruh gendong ini sangat mudah dikenali. Selendang lurik yang mereka selempangkan serta celemek yang mereka kenakan menjadi penanda bahwa mereka adalah buruh gendong. Amin Muftiyanah, direktur Yayasan Annisa Swasti yang sejak tahun 1990-an mendampingi para buruh ini mengatakan bahwa usia mereka beragam. Mulai dari 20 - 60 tahun. Rata-rata para buruh gendong ini mampu membawa 50 - 100 kilogram dalam satu kali gendongan.

Meski Amin menilai bahwa pekerjaan buruh gendong tampak tidak manusiawi, tetapi banyak perempuan yang terlibat dalam sektor ini. Di Pasar Beringharjo yang berlantai tiga ini saja jumlahnya tak kurang dari 500 orang. Mereka tersebar dari lantai satu sampai lantai tiga.

Menurut Mak Ndung, mantan ketua Paguyuban Buruh Gendong Pasar Beringharjo ’’Sayuk Rukun’’, sebagian besar buruh di gendong di pasar ini berasal dari Kabupaten Kulon Progo, Propinsi DI Yogyakarta. Namun ternyata tak hanya dari wilayah DI Yogyakarta saja. Buruh yang berasal dari Kabupaten Boyolali, Klaten, dan Sukoharjo ketiganya terletak di Propinsi Jawa Tengah, juga banyak ditemukan di sini.

Sebagian dari mereka berasal dari desa yang sama. Ini terjadi karena biasanya mereka yang telah menjadi buruh membawa serta para tetangga atau menjadi jalan masuk warga sedesanya ke dalam lingkungan pasar. Selain dengan cara ini, masuknya para perempuan ini ke pasar sebagai buruh gendong karena diajak oleh orang orang tua atau justru menggantikan profesi orang tua mereka.

Dapat dikatakan menjalani hidup sebagai buruh gendong sebenarnya adalah pilihan terakhir ketika tak ada lagi yang dapat mereka pilih. Bahkan, Mak Ndung yang telah menjadi buruh gendong sejak tahun 1980 melontarkan, ’’Orang yang mau jadi buruh gendong itu paling jelek. Tidak punya kepinteran tidak punya keterampilan, hanya mengandalkan tenaga.’’

Kondisi ini ternyata tidak membuat mereka terus berada dalam keterbatasan dan keterpurukan. Keterlibatan mereka dalam paguyuban merupakan salah satu bukti bahwa ada tekad dalam diri mereka untuk memajukan diri. Seperti kata Tuminah, setiap 35 hari sekali (selapan) buruh gendong yang tergabung dalam paguyuban ini mengadakan pertemuan. ’’Setiap Minggu-Pon di Masjid Muttaqien,’’ kata Tuminah.

Dalam pertemuan rutin ini, selain diisi dengan berbagai materi juga diadakan arisan dan simpan pinjam. Namun seperti halnya kegiatan simpan pinjam di banyak tempat, belakangan, ’’Simpanan bubar, tinggal pinjaman,’’ Mak Ndung menuturkan.

Meski tidak semua kegiatan berjalan lancar, setidaknya keberadaan paguyuban telah diakui kemanfaatannya oleh para buruh gendong. Jika dulu keberadaan mereka tidak dianggap, kini Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Pasar telah mengakui buruh gendong sebagai warga pasar. Dengan pengakuan ini, setidaknya para buruh dapat bekerja dengan lebih nyaman, tidak lagi dianggap sebagai pihak yang harus ’disingkirkan’ dari lingkungan pasar. [siti aminah]

Lanjut.....

MEMANGGIL REZEKI DENGAN TEROMPET


Tahun baru, tak afdol rasanya tanpa kehadiran terompet. Suara terompet yang kadang tak enak di dengar namun menjadi tanda pergantian waktu di tahun yang baru biasa dikumandangkan saat pesta pergantian tahun digelar. Itulah mengapa, terompet selalu hadir di jalan-jalan protocol di kota besar di Indonesia termasuk Surabaya.

Para pedagang kaki lima yang sehari-hari berjualan makanan maupun kebutuhan rumah tangga lainnya, dua minggu menjelang tahun baru berbondong-bondong beralih berdagang terompet.

’’Habis jualan terompet untungnya lumayan. Satu terompet bisa dapat untung hingga Rp 7 ribu,’’ ujar Siti Nur Rodiah (40) pedagang terompet ‘dadakan’ yang sehari-hari berjualan di sepanjang jalan raya Ngagel.

Bila tak masuk tahun baru, sehari-hari wanita yang akrab dipanggil Rodiah ini berjualan perlengkapan rumah tangga tradisional seperti pembakar sate, kipas bamboo dan aneka peralatan masak lainnya.

Namun memasuki tanggal 15 Desember, sudah tahun yang kelima Rodiah menambah jualannya yakni terompet.

Terompet-terompet yang dijual Rodiah ini didatangkan dari Jawa Barat. “Biasanya ada yang dating kesini mengirim barang jadi saya tidak harus kulakan di tempat lain. Teman-teman yang berdagang di sepanjang jalan raya Ngagel juga berasal dari penjual yang sama. Mereka tidak mematok harga jual, terserah kita yang penting kita setor harga kulakan ke mereka,” jelas Rodiah yang sudah 8 tahun berjualan di sepanjang jalan ini.

Namun karena kebersamaan, Rodiah membuat kesepakatan harga dengan sesama penjual di sepanjang jalan ini. “Biar bersaing secara sehat dan nggak saling iri,” ungkapnya.

Terompet yang ditawarkan Rodiah beragam, mulai yang berharga Rp 15 ribu dengan bentuk standar hingga yang berharga Rp 75 ribu. Yang paling mahal adalah terompet berbentuk saxophone dengan hiasan warna-warni. Selain itu, Rodiah juga menjual pernik-pernik tahun baru lainnya seperti topi dan topeng.

Setiap momen tahun baru, Rodiah biasa menjual 100 – 200 buah terompet. Namun semua tergantung musim. Bila cuaca lebih banyak bersahabat, Rodiah bisa menjual banyak. Namun bila setiap hari hujan, bisa dipastikan terompet-nya jarang laku. “Apalagi sekarang banyak saingan. Para penjual terompet juga makin kreatif, bentuknya sekarang macam-macam sehingga persaingannya tinggi,” terangnya.

Meski Cuma berjualan 2 minggu untung yang diraih cukup lumayan. Minimal Rodiah bisa mengantongi untung Rp 300 ribu. Sayangnya terompet hanya digunakan saat tahun baru. Maka Rodiah pun hanya akan mendapat untung tinggi setahun sekali. Sisanya 11 bulan, Rodiah pilih berjualan peralatan dapur dengan untung tak seberapa. [dewi]

Lanjut.....

''Perajin Batu Akik Butuh Pasar''

’’Akik adalah khas Pacitan. Nama batu akik Pacitan sudah dikenal. Tapi, kenapa di sini batu akik ndak bisa bertahan?’’ Hal itu disampaikan Pak Timbul, nama aslinya Paiman, saat berbincang-bincang dengan Peduli di rumahnya di Desa Gendaran, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan. Hal itu dikemukakan terkait dengan pasar batu akik yang saat ini, menurut dia, tak hanya lesu, tetapi sudah hancur karena dayabeli masyarakat anjlok sejak krismon tahun 1990-an.

Selain itu, saat ini ongkos produksi - termasuk bensin, solar, dan oli - juga jauh lebih mahal daripada masa jayanya bisnis batu akik dulu sebelum krismon. Kata Pak Timbul, kalau dipukul rata, dulu seorang pekerja dapat 1 kodi batu akik per hari. Ongkos produksi untuk 1 kodi batu akik dulu hanya sebesar Rp 500, tetapi sekarang ongkos produksinya mencapai Rp 10.000/kodi. Satu kodi berisi 20 biji batu akik. ’’Dulu bensin masih Rp 1.100, sekarang sudah berapa? Tapi, kendala utamanya adalah pasar,’’ tegas Pak Timbul yang mulai merajin batu akik sejak tahun 1968.

Karena rusaknya pasar batu akik, pekerja Pak Timbul pun kini menyusut drastis. Dulu waktu ramai, Pak Timbul mempekerjakan sampai belasan orang untuk mengolah batu akik. Yang bekerja pun saat itu sampai dipisah-pisah. Yang khusus memotong batu, ada sendiri. Yang khusus membentuk, ada sendiri, Yang khusus ndadekke, juga ada sendiri. Sekarang, dari belasan orang karyawan Pak Timbul, tinggal 4 orang saja yang masih bertahan. Selain yang 4 orang itu, semua sudah mencari pekerjaan lain.

’’Dulu waktu ramai, dapat I kodi langsung laku. Kalau sekarang, enggak. Kadang-kadang 1 bulan laku 1 kodi saja belum tentu. Lha, repot sekarang,’’ keluh Pak Timbul yang mengaku batu untuk bahan baku usahanya diperoleh dari petani. Ada orang-orang yang bekerja mencari batu di gunung, kemudian Pak Timbul membeli dari mereka.

’’Batu akik sebagian besar yang saya tekuni ya dari Pacitan. Carinya ke gunung. Tidak cari sendiri batunya, tapi kiriman dari petani. Selain dari Pacitan, kadang juga dari Trenggalek dan Ponorogo,’’ akunya.

Ditanya berapa pendapatannya kini sebagai perajin batu akik, Pak Timbul enggan mengungkapkan. ’’Sekarang hasilnya yang jelas warek dipangan (kenyang dimakan, Red),’’ katanya.

Butuh Bantuan
Terkait dengan hancurnya pasar batu akik, Pak Timbul mengaku cukup pusing. Pusing bukan karena memikirkan profesi lain apa yang bisa memberikan pendapatan yang lebih baik daripada profesi perajin batu akik. Bukan itu. Pak Timbul mengaku pusing memikirkan bagaimana caranya mengembalikan kejayaan bisnis batu akik.

Karena kendala utamanya adalah pasar, untuk mengembalikan kejayaan bisnis batu akik, menurut Pak Timbul, adalah memperbaiki pasar. Itulah yang memusingkan Pak Timbul. Yakni, memikirkan pasar atu akik.

Dan sebetulnya, Pak Timbul secara pribadi sudah punya solusi. Yakni, menurunkan harga jual produk batu akik. Namun, penurunan harga itu harus diimbangi dengan peningkatan efektivitas proses produksi. Dalam hal ini, menurut Pak Timbul, peralatan harus diperbaharui sehingga dengan peralatan yang lebih baik, proses produksi lebih cepat dan bahan baku yang terbuang dapat diminimalisasi. Pak Timbul yakin, dengan cara itu pasar batu akik bias lebih hidup daripada beberapa tahun terakhir ini.

Sekarang ini, menurut Pak Timbul, harga jual batu akik minimal Rp 2000/biji. Dengan harga jual sebesar itu, untung yang diperoleh Pak Timbul sebagai produsen batu akik sebetulnya tergolong minim. Karena, Pak Timbul hanya untung Rp 100/biji batu akik. ’’Kalau harga Rp 2000/biji itu dibilang murah, nyatanya tak ada orang mau beli?’’ ungkapnya.

Untuk menjalankan solusinya untuk mengatasi kehancuran pasar itu, Pak Timbul mengaku sangat membutuhkan bantuan modal, tapi bukan modal berupa uang, melainkan modal berupa alat untuk memperbaiki pasar. Untuk itu, Pak Timbul mengaku sudah menyampaikan keluhannya terkait dengan hancurnya pasar batu akik ke Pemkab Pacitan. Sayangnya, kata dia, hingga saat ini, pihak pemerintah belum memberikan tanggapan.

’’Padahal batu akik ini termasuk salah satu icon Kabupaten Pacitan. Nama Pacitan ini terangkat antara lain juga karena batu akik ini,’’ ungkap Pak Timbul penuh penekanan. [KUS/PUR]

Lanjut.....